Mahameru


Mahameru,....
Jemari tanganku kaku membeku. Terpaan angin malam menjelang pagi seperti mengisap darah di balik kulitku yang tipis. Bungkusan sarung tangan juga otot dan tulang tak berdaya. Aku mungkin kalah dari angin dan dinginnya mahameru ini. Gelap mencekam, ketujuh teman seperjalanan tak lagi sejangkauan mata. Pendaki lain yang tak kukenal sesekali lewat mendahului langkah gemetarku.
Tidak lagi dengan kaki yang kuat aku menapak, tidak juga dengan tangan kokoh aku melaju. Takut menggelayuti pikiranku. Tak ada teman di kiri dan kanan atau di depan dan belakang. Kucoba berhenti, mana tahu menunggu lima menit, diantara temanku akan ada yang menyusul. Tapi angin malam menjelang pagi itu tidak mau berkompromi. Tidak dikecualikannya tubuh kecilku yang semakin mengisut. Tidak berjalan terus membuatnya semakin merajalela menyerangku.
Tubuh tegak berdiri bukan strategi yang tepat di medan sedemikian miring, dingin, dan berpasir ini. Kaki lunglai sekalipun hanya untuk menahan bobot 43 kg. Jemari tangan tak dapat menggenggam trekking pole lebih erat. Titik antara kepala dan leher bagian belakang ku ngilu minta ampun.
Aku pun berjalan lagi. Kuletakkan kaki pada satu pijakan, kupastikan pijakan itu kuat menahan tubuhku kemudian aku melangkah demikian perlahan. Aku mencoba tak mengindahkan bisikan angin yang merayuku untuk berhenti. Sesekali kutoleh lagi ke belakang. Salah satu temanku menyusul, ia menyahut saat kupanggil tetapi gelap pekat tidak mengijinkanku melihatnya dengan jelas. Ku coba berhenti tapi tubuhku semakin tak mampu diam menunggu karena akan membuatku semakin menggigil. Kulanjut lagi memuncak.
Takut masih erat menggodaiku. Takut kala aku menjejak, jangan-jangan pijakanku rapuh kemudian terpeleset, jatuh dan menggelinding. Takut kalau-kalau bebatuan sisa pijakan pendaki di depanku susur dan mengenai kepalaku. Takut, jangan-jangan deru angin mengencang, menerpa tubuh kecilku dan hempas mencium bebatuan rapuh yang menyelimuti punggung gunung tertinggi di pulau ini.
Air bertetesan dari hidung dan mulutku. Aku tidak peduli, kubiarkan saja, mungkin itu cara tubuhku melawan dingin yang menyesakkan ini. dalam ketidakberdayaan, satu nama terus kupanggil, Tuhan, Tuhan, Tuhanku.....
Pada titik keputusasaan, puncak mahameru telah sangat dekat. Tetapi semakin tinggi dakianku, semakin gagah angin merapuhkan tulang-tulang cekingku. Aku tidak mungkin nekat melanjutkan langkah ke puncak. Matahari juga belum terbangun dari tidur lelapnya. Terlalu dini aku sampai di sana dan tentu angin di puncak akan lebih mematikan. Kuputuskan berhenti, terduduk di area agak landai sekalipun sempit, cukup menahanku sehingga tak perlu mengeluarkan tenaga bertumpu di ujung kaki.
Aku memang semakin menggigil. Tubuhku seluruhnya gemetar, gigi gemeretak, isi kepala serasa disedot angin jahat yang kian ribut menertawaiku. Aku sendirian. Beberapa pendaki yang lewat hanya menoleh kemudian tidak peduli. Ku peluk lututku, mencoba eratkan kaki, tangan, dan kepala ke arah dada tapi sama sekali tidak cukup. Aku masih menggigil.
Aku tahu, aku tidak akan mati konyol kedinginan di sini. Dengan mata terpejam ku dengar ‘jangan takut, AKU di sini memelukmu’. Tidak mampu lagi bahkan untuk menangis, dalam kebergantungan seutuhnya kepada DIA, kulepas semua kemungkinan-kemungkinan yang tadinya bermunculan menghantuiku. Ku arahkan telinga dan hati meyakini satu kalimat bisikan itu. Aku memang masih menggigil tetapi ‘takut’ perlahan pergi.
Tak lama, suara yang kukenal menemukanku, dengan panik ia langsung memeluk. Tentu ia terkejut menemukanku duduk menggigil ala kura-kura di pojok itu. Seorang lain yang tidak kami kenal berbaik hati meminjamkan sejenis mantel (aku tak tahu namanya) tapi cukup melindungiku dari terpaan angin. Aku dibungkus dengan lembaran entah putih perak atau malah kuning keemasan itu, aku tak dapat mengingat lagi dengan jelas.
Teman yang lain juga menyusul, meminjamkan jaket, mantel, syal, dan topi untuk menolongku lepas dari kedinginan yang teramat dingin itu. Menemui ku dengan kondisi begitu mungkin memunculkan kuatir pada benak mereka. Dapatkah kami benar-benar menjejakkan kaki di puncak mahameru, gunung maha indah, yang juga maha menguras urat keberanian ini.
Takut padaku sudah pergi. Jaminan selamat telah IA bisikkan. ‘ayo, kita lanjut saja’, kataku kemudian.
Kami kedinginan, gemetaran. Kami tidak kebal pada keperkasaan angin menjelang pagi. Tangan dan kaki kami tidak terbuat dari baja sehingga mampu menapaki tubuh mahameru yang maha terjal, maha tinggi dan berpasir itu. Sungguh, kami juga dari debu yang lemah. Kami, aku dan teman-temanku, tidak terkecuali yang lelaki, tidak terkecuali juga pada lelaki yang telah berpengalaman mendaki, kami berdelapan memang hampir putus asa tapi tidak untuk menyerah.
Tepat semburat mentari terbangun dari buaian malam, kami tiba dengan haru biru di puncak mahameru. Bukan karena kuat kami, bukan karena hebat kami. Aku juga teman-temanku tahu, DIA yang menciptakan mahameru itu, ya, DIA lah yang berjalan mendahului kami, menopang kaki yang gontai, meneguhkan tangan yang lunglai, menguatkan hati yang hampir putus asa, menghilangkan takut yang menggelayut.
DIA yang empunya mahameru itu hadir di sana. DIA sangat berdaulat mendatangkan hujan tapi DIA penuh kasih mendengar mohon kami, bahkan dihiburkan hati kami dengan langit berhias ribuan bintang.
Kami memang hampir putus asa tetapi tidak untuk menyerah karena kami tahu bahwa DIA, SANG PENCIPTA itu ada, hadir, eksis, dan aktif di sana menopang ketidakberdayaan kami.

Surakarta, 13 September 2016

Komentar

  1. Semeru oooo Semeru.... Oooo Boangmanalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya pengen buat cerita section 2.. kasi ide donk, hehehe

      Hapus
  2. cerita aja kronologi waktu hampir membeku. Hahahahahahahahaha
    tapi sampai sekarang yang bikin galau ya perjalanan pulangnya itu Ka. Waktu takbiran, kita nyanyi di angkutan lagu "Sahabat Kecil" Ipang, dan sudut pandangku pada setiap individu juga berubah menjadi lebih akrab. Kangen kalian

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Perempuan Indonesia: Jangan Gegabah

Sampai Ketemu Lagi