Mahameru
Jemari
tanganku kaku membeku. Terpaan angin malam menjelang pagi seperti
mengisap darah di balik kulitku yang tipis. Bungkusan sarung tangan juga
otot dan tulang tak berdaya. Aku mungkin kalah dari angin dan dinginnya
mahameru ini. Gelap mencekam, ketujuh teman seperjalanan tak lagi
sejangkauan mata. Pendaki lain yang tak kukenal sesekali lewat
mendahului langkah gemetarku.
Tidak
lagi dengan kaki yang kuat aku menapak, tidak juga dengan tangan kokoh
aku melaju. Takut menggelayuti pikiranku. Tak ada teman di kiri dan
kanan atau di depan dan belakang. Kucoba berhenti, mana tahu menunggu
lima menit, diantara temanku akan ada yang menyusul. Tapi angin malam
menjelang pagi itu tidak mau berkompromi. Tidak dikecualikannya tubuh
kecilku yang semakin mengisut. Tidak berjalan terus membuatnya semakin
merajalela menyerangku.
Tubuh
tegak berdiri bukan strategi yang tepat di medan sedemikian miring,
dingin, dan berpasir ini. Kaki lunglai sekalipun hanya untuk menahan
bobot 43 kg. Jemari tangan tak dapat menggenggam trekking pole lebih
erat. Titik antara kepala dan leher bagian belakang ku ngilu minta
ampun.
Aku pun berjalan
lagi. Kuletakkan kaki pada satu pijakan, kupastikan pijakan itu kuat
menahan tubuhku kemudian aku melangkah demikian perlahan. Aku mencoba
tak mengindahkan bisikan angin yang merayuku untuk berhenti. Sesekali
kutoleh lagi ke belakang. Salah satu temanku menyusul, ia menyahut saat
kupanggil tetapi gelap pekat tidak mengijinkanku melihatnya dengan
jelas. Ku coba berhenti tapi tubuhku semakin tak mampu diam menunggu
karena akan membuatku semakin menggigil. Kulanjut lagi memuncak.
Takut
masih erat menggodaiku. Takut kala aku menjejak, jangan-jangan
pijakanku rapuh kemudian terpeleset, jatuh dan menggelinding. Takut
kalau-kalau bebatuan sisa pijakan pendaki di depanku susur dan mengenai
kepalaku. Takut, jangan-jangan deru angin mengencang, menerpa tubuh
kecilku dan hempas mencium bebatuan rapuh yang menyelimuti punggung
gunung tertinggi di pulau ini.
Air
bertetesan dari hidung dan mulutku. Aku tidak peduli, kubiarkan saja,
mungkin itu cara tubuhku melawan dingin yang menyesakkan ini. dalam
ketidakberdayaan, satu nama terus kupanggil, Tuhan, Tuhan, Tuhanku.....
Pada
titik keputusasaan, puncak mahameru telah sangat dekat. Tetapi semakin
tinggi dakianku, semakin gagah angin merapuhkan tulang-tulang cekingku.
Aku tidak mungkin nekat melanjutkan langkah ke puncak. Matahari juga
belum terbangun dari tidur lelapnya. Terlalu dini aku sampai di sana dan
tentu angin di puncak akan lebih mematikan. Kuputuskan berhenti,
terduduk di area agak landai sekalipun sempit, cukup menahanku sehingga
tak perlu mengeluarkan tenaga bertumpu di ujung kaki.
Aku
memang semakin menggigil. Tubuhku seluruhnya gemetar, gigi gemeretak,
isi kepala serasa disedot angin jahat yang kian ribut menertawaiku. Aku
sendirian. Beberapa pendaki yang lewat hanya menoleh kemudian tidak
peduli. Ku peluk lututku, mencoba eratkan kaki, tangan, dan kepala ke
arah dada tapi sama sekali tidak cukup. Aku masih menggigil.
Aku
tahu, aku tidak akan mati konyol kedinginan di sini. Dengan mata
terpejam ku dengar ‘jangan takut, AKU di sini memelukmu’. Tidak mampu
lagi bahkan untuk menangis, dalam kebergantungan seutuhnya kepada DIA,
kulepas semua kemungkinan-kemungkinan yang tadinya bermunculan
menghantuiku. Ku arahkan telinga dan hati meyakini satu kalimat bisikan
itu. Aku memang masih menggigil tetapi ‘takut’ perlahan pergi.
Tak
lama, suara yang kukenal menemukanku, dengan panik ia langsung memeluk.
Tentu ia terkejut menemukanku duduk menggigil ala kura-kura di pojok
itu. Seorang lain yang tidak kami kenal berbaik hati meminjamkan sejenis
mantel (aku tak tahu namanya) tapi cukup melindungiku dari terpaan
angin. Aku dibungkus dengan lembaran entah putih perak atau malah kuning
keemasan itu, aku tak dapat mengingat lagi dengan jelas.
Teman
yang lain juga menyusul, meminjamkan jaket, mantel, syal, dan topi
untuk menolongku lepas dari kedinginan yang teramat dingin itu. Menemui
ku dengan kondisi begitu mungkin memunculkan kuatir pada benak mereka.
Dapatkah kami benar-benar menjejakkan kaki di puncak mahameru, gunung
maha indah, yang juga maha menguras urat keberanian ini.
Takut padaku sudah pergi. Jaminan selamat telah IA bisikkan. ‘ayo, kita lanjut saja’, kataku kemudian.
Kami
kedinginan, gemetaran. Kami tidak kebal pada keperkasaan angin
menjelang pagi. Tangan dan kaki kami tidak terbuat dari baja sehingga
mampu menapaki tubuh mahameru yang maha terjal, maha tinggi dan berpasir
itu. Sungguh, kami juga dari debu yang lemah. Kami, aku dan
teman-temanku, tidak terkecuali yang lelaki, tidak terkecuali juga pada
lelaki yang telah berpengalaman mendaki, kami berdelapan memang hampir
putus asa tapi tidak untuk menyerah.
Tepat
semburat mentari terbangun dari buaian malam, kami tiba dengan haru
biru di puncak mahameru. Bukan karena kuat kami, bukan karena hebat
kami. Aku juga teman-temanku tahu, DIA yang menciptakan mahameru itu,
ya, DIA lah yang berjalan mendahului kami, menopang kaki yang gontai,
meneguhkan tangan yang lunglai, menguatkan hati yang hampir putus asa,
menghilangkan takut yang menggelayut.
DIA
yang empunya mahameru itu hadir di sana. DIA sangat berdaulat
mendatangkan hujan tapi DIA penuh kasih mendengar mohon kami, bahkan
dihiburkan hati kami dengan langit berhias ribuan bintang.
Kami memang hampir putus asa tetapi tidak untuk menyerah karena kami tahu bahwa DIA, SANG PENCIPTA itu ada, hadir, eksis, dan aktif di sana menopang ketidakberdayaan kami.
Surakarta, 13 September 2016

Semeru oooo Semeru.... Oooo Boangmanalu
BalasHapussebenarnya pengen buat cerita section 2.. kasi ide donk, hehehe
Hapuscerita aja kronologi waktu hampir membeku. Hahahahahahahahaha
BalasHapustapi sampai sekarang yang bikin galau ya perjalanan pulangnya itu Ka. Waktu takbiran, kita nyanyi di angkutan lagu "Sahabat Kecil" Ipang, dan sudut pandangku pada setiap individu juga berubah menjadi lebih akrab. Kangen kalian