Yap Thiam Hien:Sang Pendekar Keadilan

RESENSI BUKU

Yap Thiam Hien
Sang Pendekar Keadilan

Ia lahir di banda aceh, 25 mei 1913. Ibunya meninggal saat Yap berusia 9 tahun sedangkan ayahnya sering keluar kota berusaha membangkitkan bisnis mereka yang gulung tikar. Yap dan kedua saudaranya beruntung mendapat kasih sayang dan didikan yang baik dari nenek asuh berkebangsaan Jepang, Sato Nakashima. Perempuan Jepang ini kerap membacakan buku cerita yang berkisah tentang samurai. Ia selalu menutup ceritanya dengan pesan; jadilah pemberani yang setia seperti samurai, jangan pernah takut jika memang benar, dan kebenaran pada akhirnya pasti menang.

Walaupun sang ayah sibuk dengan bisnisnya, Sin Eng mendukung penuh pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Di Kutaraja, yang sekarang disebut Banda Aceh Yap mengecap sekolah dasar dengan pengantar bahasa Belanda. Yap tidak mengalami kesulitan dengan hal tersebut. Setelah lulus ELS tahun 1926, Yap melanjutkan ke MULO di Batavia. Ia lulus dari MULO tahun 1929 namun diminta ayahnya untuk mengulang satu tahun lagi karena kuatir tidak diterima di pendidikan selanjutnya. Pada 1930, Yap masuk AMS setara SMA di Bandung satu tahun dan dilanjut ke Yogyakarta. Penguasaan bahasa Yap semakin baik. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, bahkan Latin. Ia lulus dari AMS tahun 1933. Oleh karena penguasaan bahasa nya yang sangat baik, Yap juga tidak kesulitan saat mengikuti perkuliahan bidang hukum di Universitas Leiden, Belanda.

Pengalamannya tinggal bersama keluarga Kristen di Yogyakarta saat menempuh studi AMS, Yap menemukan kehangatan di rumah Jopp. Ia menilai kebaikan yang diperoleh dan dicerminkan oleh keluarga tersebut berasal dari nilai-nilai kekristenan. Di sana, ia mengenal gereja dan hapal beberapa kidung pujian. Setelah pindah dan bekerja di Batavia, Yap semakin rajin ke gereja hingga akhirnya resmi memeluk agama Kristen Protestan pada 1938, di usianya yang ke 25. Yap aktif dan menjadi penatua yang suka berkhotbah di gereja yang ia dirikan, GKI Samanhudi.

Pada 1946, Yap mendapat kesempatan menikmati pendidikan ke Universitas Leiden di Belanda sambil bekerja untuk gereja. Yap menemukan tempat favoritnya, perpustakaan. Di sana ia melahap buku-buku berbahasa Belanda dan Jerman. Yap mendalami isu Marxisme dan kapitalisme, filosofi, politik, organisasi social, serta rekonstruksi. Dia juga mempelajari sejarah Alkitab. Setamat kuliah, Yap mengikuti pelatihan kerja dari gereja kemudian ditawari menjadi pemimpin pemuda gereja di Jawa Barat setelah mendapat pelatihan lagi dengan tur ke beberapa Negara di Eropa.

Dalam keminoritasannya, Cina, Kristen, dan jujur, Yap tersingkir di masa orde lama dan dipenjara di masa orde baru. Bagi Yap, kebenaran dan keadilan tidak dapat dikompromikan. Sekalipun mengorbankan banyak hal. Ia cukup dengan kebersahajaannya. Penampilannya jauh dari kata mewah. Kemeja putih, celana abu-abu, dan sepatu hitam saja yang melekat pada tubuhnya. Satu-satunya yang paling mahal adalah toga yang dikenakan setiap proses pengadilan. Ia sering memberi pembelaan tanpa imbalan kepada orang-orang yang terpinggirkan. Mulai dari tukang kecap, masyarakat yang digusur tanpa ganti rugi yang adil, tokoh-tokoh yang diduga PKI, bahkan Rachmat Basoeki, seorang anticina yang berkomplot mengebom BCA yang saat itu symbol kekuatan ekonomi keturunan Tionghoa. Ia berdiri sebagai pembela bagi semua kaum, semua latar belakang profesi, suku, bangsa, dan agama.

Yap Thiam Hien, sekalipun namanya semakin asing bagi aktivis hukum apalagi masyarakat Indonesia saat ini, Ia adalah advokat yang sadar betul, benar-benar menjiwai hakikat seorang pembela hukum; bahwa menang bukan lah tujuan utama. Ia berdiri untuk meneriakkan kebenaran, tak jarang ruang persidangan menggelegar oleh suaranya yang lantang dan tegas. Kemenangan bukan capaian bagi seorang Yap, meneriakkan kebenaranlah yang menjadi kesukaannya. Maka, tidak heran jika ia adalah pengacara yang membentak kliennya jika dipandang keliru. Di sisi lain, ia juga pengacara yang memasang biaya pendampingan hukum jauh di bawah advokad lainnya. Bahkan, tak jarang menjadi pembela tanpa dibayar sepeser pun.

Yap Thiam Hien tutup usia pada 1989 saat mengikuti konferensi di Belgia. Ia berusia 76 tahun kala itu. Sampai akhir hidupnya, Yap tetaplah pribadi yang tidak pernah mengkompromikan prinsip. Ia bukan pengacara yang manut-manut saja pada klien sebab uang klien bukan hal penting baginya. Nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan ia junjung sekalipun pilihan itu membawanya ke penjara bahkan membahayakan keluarganya. Ia bukan advokad kaya seperti yang sering kita temukan saat ini. Ia bangga dengan kebersahajaannya. Ia bangga dengan sikap tegas dan beraninya membela kebenaran, menegakkan keadilan.

Saat kita begitu sulit menemukan nilai-nilai yang dijunjung tinggi Yap Thiam Hien di era ini, patut kita menangisi kematiannya yang kedua kalinya.
Surakarta, 6 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahameru

Menjadi Perempuan Indonesia: Jangan Gegabah

Sampai Ketemu Lagi