Sampai Ketemu Lagi

“Suara-suara
kendaraan dari kejauhan seakan memberitahu bahwa tak lagi ada kamu di kota ini”
Setiap pertemuan berujung pada
datangnya hari perpisahan. Klasik diucap mereka yang ditinggal maupun yang
meninggalkan. Berjabat tangan dan bertukar nama menjadi mula, peluk, dan salam
pisah di kemudian. Memang tidak selebay yang digambarkan sinetron-sinetron di
negeri ini. Bermalam-malam menangis sambil memeluk bantal atau berhari-hari
tidak selera makan. Tetapi mengingat seseorang tak tergapai muka ke muka lagi
menciptakan ruang yang sepi. Kecil ruang itu, dapat ditepis dengan nada-nada
gitar atau tawa teman-teman yang masih di sini. Tidak sediam sumur kosong yang
dalam. Hanya sesepi rumah yang ditinggal semalam oleh penghuninya. Namun, aku memilih
merasakan dan mendengarnya lebih seksama. Siapa tahu, ruang sepi itu hendak
menyampaikan sesuatu untuk kumengerti.
Lalu, potongan-potongan memori yang
dilalui bersama berkelabat di atas kepala. Pertemuan pertama di warung makan,
temannya adalah teman dari temanku, seterusnya bertukar nomor telepon.
Pertemuan kedua dan selanjutnya, berbagi kisah hidup dan seterusnya, juga
pertukaran buah pikir dan sejenisnya. Persamaan dapat mengeratkan tetapi bukan
berarti perbedaan meregangkan, lebih sering disikapi dengan penerimaan atau
malah bahan mengevaluasi diri sendiri. Saling mengingatkan untuk melakukan
kebaikan, ditegur saat berada di pihak yang salah, juga saling memperhatikan
kalau-kalau butuh bantuan. Kedua pihak tahu betul, hubungan baik tidak dapat
dibangun oleh sebelah tangan saja.
Pertemanan menjadi karib sekalipun bukan sedekat yang digambarkan
sinetron-sinetron remaja di negeri ini dengan ‘best friends forever-nya’ atau boneka pink seragamnya atau cincin
pertemanan selamanya. Tentu tidak sealay itu.
Tidak selamanya memang sikap bijak
menghadapi perbedaan konsisten dilakukan. Ada kalanya berbeda menilai sesuatu
sedikit menciptakan rasa tidak nyaman antara dua pihak. Biasanya, salah satu
atau malah keduanya undur dari pertemuan dan interaksi yang terlalu sering.
Mencoba melihat ke dalam diri sendiri. Saat menemukan ada yang salah, pertemanan
yang dewasa memang menciptakan ruang untuk meminta maaf sehingga tidak perlu
kuatir sebab maaf pasti akan diberikan. Saat salah sedang di pihak lain, persahabatan
yang dewasa juga tahu betul memberi maaf bahkan sebelum diminta oleh pihak yang
salah. Selain itu, perbedaan tidak mesti ada yang salah maka disikapi dengan
pemahaman bahwa setiap manusia punya prinsip, cara hidup, dan tujuan
masing-masing. Pertemanan bukan perihal kompak style-nya kemana-kemana atau seragam pandangan dan ideologi
hidupnya. Pertemanan cukup ditandai dengan satu pihak sadar betul temannya
mengasihinya, begitu pula sebaliknya.
Saat jarak per waktu dikali pada
sebuah keputusan yang menghasilkan momen perpisahan, keduanya tahu masa seperti
itu memang lazim dan pertemuan tidak perlu disesali karena datangnya momen yang
sangat lazim itu. Bukan berarti pula perasaan yang ditinggal mesti hambar,
sedih juga menangis tidak salah. Yang meninggalkan pun berhak tertawa mengingat
hari dan tempat baru akan mewujudkan mimpinya. Menangis tidak selalu duka
seperti meninggalkan bukan selamanya tega. Jika yang ditinggal menyadari ruang
sepi tiba-tiba hadir di hatinya, yang meninggalkan tahu persis sepotong hatinya
tidak turut serta. Ketika menoleh ke belakang, mereka yang ditinggal tidak lagi
dalam jangkauan mata. Momentum dimana pikirannya disadarkan bahwa kakinya telah
semakin jauh melangkah. Tapi, bukankah hidup harus terus berlanjut.
Mencari pihak bersalah dalam
perpisahan malah menambah faktor pemisah. Ruang dan waktu menjadi faktor mutlak
perpisahan, jika kita menyalahkan kedua hal itu sama saja seperti memperjauh
yang sudah jauh. Lalu apa bagian mereka yang ditinggalkan. Benarkah
mereka korban dari ketegaan yang meninggalkan. Apapula salah yang meninggalkan,
tawanya menyambut kehidupan yang baru bukan berarti tidak mengindahkan mendung
di hati yang ditinggalkan. Toh, yang ditinggalkan juga akan sampai pada giliran
meninggalkan, walau dengan orang yang berbeda.
Surakarta,
19 Jan 2017
Kala tahu bahwa
kaki kan meninggalkan kota ternyaman sedunia
Kak bijak banget lo tulisan ini. Setelah apa yg terjadi ternyata yg ada di tulisan inilah jawabannya
BalasHapus