Conello & MU
Layaknya
menyaksikan rembulan direnggut gemawan kelam, aku tidak dapat mengabaikan
sepotong sesal kala melihat foto kau berpose dengannya di wall facebook-ku.
Tidak ada alasan logis untuk cemburu apalagi marah. Wajah yang sempat mengerut
karena kejutanmu, kucoba hiasi dengan seyum dan coba menemukannya pada cermin.
Aku tidak tahu
persis mengapa ada lelaki di dunia ini mau jatuh hati pada seorang gadis culun
yang berdasarkan standar kecantikan kebanyakan orang, gadis itu dapat
dikategorikan berwajah udik dan jauh dari kata menarik. Sepemahamanku, lelaki
suka kalap melihat gadis bohai nan seksi dan terpana ketika menikmati indah
wajah wanita yang sebagai bidadari. Dan kau, dengan es krim conello menghampiriku, menyodorkannya
padaku. Tak berani mataku lekat pada wajahmu, kuterima saja dan kulahap sebab
memang hari itu aku sedang sangat ingin menikmati dingin dan manisnya sepotong
es krim. Sesuatu berbisik memberitahu bahwa sepotog es krim adalah sebuah
tanda.
Es krim di tanganku segera ludes. "Tidak, itu bukan tanda. Bukan berarti apa-apa", kata logika pada bisikan itu.
Es krim di tanganku segera ludes. "Tidak, itu bukan tanda. Bukan berarti apa-apa", kata logika pada bisikan itu.
Sepulang
sekolah, kuputuskan terlebih dahulu mengunjungi sebuah toko stiker yang tidak
terlalu jauh dari rumahku. Kau memang selalu nyaman diam tak banyak bertingkah. Cukup duduk di kursi paling
belakang di sudut kelas kita tetapi setidaknya aku masih tahu kecintaanmu pada
MU.
“Bang, mau beli stiker yang ini, berapa ya?” kutunjuk satu set berisi beberapa stiker beragam bentuk dengan tulisan Red Devil yang didominasi warna merah. Logika mendorongku membelikannya sebagai ucapan terimakasih atas segarnya es krim yang kau berikan.
“Bang, mau beli stiker yang ini, berapa ya?” kutunjuk satu set berisi beberapa stiker beragam bentuk dengan tulisan Red Devil yang didominasi warna merah. Logika mendorongku membelikannya sebagai ucapan terimakasih atas segarnya es krim yang kau berikan.
Aku yakin hari
itu bukan tanggal ulang tahunku tapi aku menemukan gantungan tas berwarna
kuning dengan tulisan peace di tepi
bawah dan kepala burung merpati mengisi tepi atasnya. Kutanyai teman semeja
juga teman yang ada di belakang kursiku, mereka menggeleng tak tahu siapa penyemat
gantungan tas itu. Entahlah, bisa saja seseorang salah alamat. Niat menaruh di tas
sendiri malah kesasar di tas ku.
Bisikan itu datang lagi, “gantungan tas itu adalah sebuah tanda”. Aku menoleh ke pojok kelas dan kau tak sempat berpaling. Tertakap basah sedang menatap ke arahku. Baiklah, ternyata kau.
Bisikan itu datang lagi, “gantungan tas itu adalah sebuah tanda”. Aku menoleh ke pojok kelas dan kau tak sempat berpaling. Tertakap basah sedang menatap ke arahku. Baiklah, ternyata kau.
Hanya bisikan
tidak akan lebih besar dari teriakan logika yang sangat terpercaya. Buktinya,
puluhan soal Kimia tuntas sebagai pengantar tidur logika di kepalaku. Seorang perempuan culun
yang tinggi badannya tak cukup untuk menghapus papan tulis. Seorang perempuan
hanya bermodalkan lotion murahan dan
bedak baby. Seorang perempuan hanya
berkuncir, tak cukup percaya diri menggerai rambutnya yang tidak keriting juga
tak lurus. Seorang perempuan yang kaku tidak punya bahan humor. Seorang
perempuan begitu, tidak pantas tersanjung pada tanda-tanda. Perempuan yang
seperti itu jangan sampai terlena hendak melakoni cerita cinderlla.
Duduk di bangku
kelas tiga SMA sudah cukup menyita waktu, menguras perhatian pada ujian seleksi
perguruan tinggi yang sudah tidak lama lagi. Aku menutup telinga dari
bisik-bisik berisik di sudut kelas. Soal-soal kimia ini tak rela ditinggal.
Ibu wali kelas memasuki ruangan, tiba-tiba heningnya kelas tertuju pada beliau yang menatap kami dengan cara tidak biasanya. “Hari ini menjadi hari terakhir kalian duduk di sini, di kelas ini. Ibu mau setiap orang menyampaikan kata-kata perpisahan di depan kelas. Dimulai dari depan sampai yang terakhir yang di pojok”. Aku menoleh ke arah telunjuk beliau, teman tergemuk di kelas kita duduk bingung di situ, kau tepat di sampingnya.
Ibu wali kelas memasuki ruangan, tiba-tiba heningnya kelas tertuju pada beliau yang menatap kami dengan cara tidak biasanya. “Hari ini menjadi hari terakhir kalian duduk di sini, di kelas ini. Ibu mau setiap orang menyampaikan kata-kata perpisahan di depan kelas. Dimulai dari depan sampai yang terakhir yang di pojok”. Aku menoleh ke arah telunjuk beliau, teman tergemuk di kelas kita duduk bingung di situ, kau tepat di sampingnya.
Ditemani tangis,
diselingi tawa, satu per satu bergantian berdiri di depan kelas menyampaikan
senang dukanya selama belajar bersama di kelas itu. Apa yang menjadi pidato
perpisahanku, sama sekali tidak tinggal di memoriku. Dari semua yang menyampaikan
ucapan selamat berpisahnya,
satu bagian yang tak akan hilang dari ingatanku. Masih hidup di kepalaku dan
setiap saat dapat kureka ulang. Satu mozaik itu yang juga akan menganggu
teriakan logika, membuat bisikan terdengar lebih bersih.
Entah bagaimana
rona wajahku yang duduk tepat di depanmu saat itu. Kau berdiri gemetar
membelakangi papan tulis. Ibu wali kelas masih duduk diam di kursi guru
menunggu kata-kata keluar dari mulutmu. Kutonton celana panjangmu bergetar
seperti orang yang sedang diterpa hujan salju, telapak tangan dan wajahmu putih
pucat pasi. Suaramu menjadi tidak jelas. Kau seperti ingin menelan kembali
kata-kata yang sudah kau ucapkan. Gemetarmu yang seperti orang terserang
malaria mencuri fokusku sehingga suaramu sebagai sayup daun yang digoyangkan
angin. Bisikan itu menghampiriku lagi, “dia
sedang mengungkapkan perasaannya padamu”. “Ah, tapi ga ada dia ucapkan
namaku. Mungkin aja yang dia maksud adalah Oni, bukan aku” sahut logika
menyangkal.
Setelah kelas
bubar, teman-teman onar meneriakkan namaku dan namamu. Mungkin karena terbawa
suasana. Kemudian, kita berbagi rencana masa depan sambil menyisir jalan raya dari
sekolah sampai ke rumahku. Sekitar dua kilometer, tetapi rasanya sangat
sebentar. “Lusa aku langsung ke Bandung, bimbel di sana. Aku mau nyoba Unpad”.
Perencanaanmu menghempas cinderlla kembali pada kenyataan hidup. Dengan pasrah
aku menyahut, “kalau jodoh pasti ketemu lagi”.
Kau sempatkan juga menyemai harapan saat malam sebelum berangkat, kau berkunjung ke rumahku.
Kau sempatkan juga menyemai harapan saat malam sebelum berangkat, kau berkunjung ke rumahku.
Hari ini, setelah
hari demi hari di sepanjang enam tahun ini berlalu, aku menemukan fotomu
bersama seorang wanita jelita, duduk mesra di atas dahan di tepi pantai. Langit
biru bercermin di atas lautan. Pasir putih memantulkan cahaya mentari. Aku
tahu, kau bahagia di situ, duduk di sisi wanita jelita itu. Bisikan itu lagi,
memperingatkan aku “tersenyumlah, kalian
memang tidak berjodoh”.
Logika manut, memang tak berjodoh sebab rembukan antara dedaunan di pohon dengan desiran angin timur telah lama bersepakat untuk tidak mempertemukan aku dan kamu.
Logika manut, memang tak berjodoh sebab rembukan antara dedaunan di pohon dengan desiran angin timur telah lama bersepakat untuk tidak mempertemukan aku dan kamu.
Surakarta,
7 Mei 2016

Kalau jodoh pasti ketemu lagi. Kalo di Jawa sih"sebelum janur kuning melengkung", jadi masih milik bersama laaahhh.
BalasHapusjanurnya udah melengkung ti.. wkwkwk
Hapus