Mahameru
Mahameru,.... Jemari tanganku kaku membeku. Terpaan angin malam menjelang pagi seperti mengisap darah di balik kulitku yang tipis. Bungkusan sarung tangan juga otot dan tulang tak berdaya. Aku mungkin kalah dari angin dan dinginnya mahameru ini. Gelap mencekam, ketujuh teman seperjalanan tak lagi sejangkauan mata. Pendaki lain yang tak kukenal sesekali lewat mendahului langkah gemetarku. Tidak lagi dengan kaki yang kuat aku menapak, tidak juga dengan tangan kokoh aku melaju. Takut menggelayuti pikiranku. Tak ada teman di kiri dan kanan atau di depan dan belakang. Kucoba berhenti, mana tahu menunggu lima menit, diantara temanku akan ada yang menyusul. Tapi angin malam menjelang pagi itu tidak mau berkompromi. Tidak dikecualikannya tubuh kecilku yang semakin mengisut. Tidak berjalan terus membuatnya semakin merajalela menyerangku. Tubuh tegak berdiri bukan strategi yang tepat di medan sedemikian miring, dingin, dan berpasir ini. Kaki lunglai sekalipun hanya u...